Hingga saat ini Goyang Karawang masih identic
dan dipresepsikan sebagai goyangan maut yang memiliki unsur negative alias
porno. Saya sebagai warga Karawang merasa tidak terima dengan julukan itu.
Karena setiap slogan yang dibuat oleh siapapun memilliki filosofi-filosofi
tersendiri. Apalagi dengan munculnya film layar lebar “Arwah Goyang Karawang” yang
dibintangi oleh artis yang memiliki julukan sebagai artis hot Indonesia. Itu membuat
arti istilah Goyang Karawang semakin negative dimata siapapun. Maka dari itu di
blog ini saya akan sedikit membagi informasi mengenai “Goyang Karawang”.
Goyang Karawang adalah Geolan Karawang
yang mampu membuat masyarakat Indonesia dan dunia tahu bahwa Karawang punya
potensi, punya prestasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata! Dunia
membutuhkan Karawang untuk selalu bergoyang, apalagi Indonesia. Dengan kata
lain, jika Karawang tidak menggoyang maka akan ada yang kurang di Indonesia
atau bahkan dunia. Jika Karawang tidak panen (beras), maka ada yang kelaparan
di Indonesia bahkan dunia. Begitupun jika dikaitkan dengan berbagai potensi
lainnya. Disini
Menurut
si kakek mengaku sedari kecil/anak-anak, dia (si kakek) sudah mengenal
istilah goyang karawang. Dengan demikian ini melekatkan arti bahwa istilah
goyang karawang sudah cukup lama berkembang terutama di masyarakat karawang
sendiri. Menurut si kakek, asal muasal istilah goyang karawang terlahir dari
satu tradisi masyarakat (khusus kaum perempuan) yang sering kali melakukan
kegiatan “nginter” /"nampi beras" yang mana kegiatan itu berupa
bagian dari proses produksi pertanian. Itu saja yang si kakek ketahui tanpa ada
penjabaran/penguraian lebih detail.
Dari
pengalaman berbincang dengan si kakek itulah kemudian saya menyambungkan dengan
kesejarahan kabupaten karawang yang hendak saya papar dibawah ini.
Bermula
pada sekitar abad 17, saat sultan Mataram mengirim balatentara dibawah pimpinan
Bupati Surabaya ke tanah pasundan/Jawa Barat dengan maksud untuk menundukan
kerajaan Banten, Sayangnya dalam perjalanan mereka dihadang oleh pasukan VOC,
kemudian pasukan Bupati Surabaya berhasil dipukul mundur. Lalu Sultan agung
Mataram mengirim ekspedisi ke dua di bawah pimpinan Dipati Ukur tapi lagi-lagi
nasibnya serupa dengan pasukan yang pertama.
Guna
membendung arus ekspansi wilayah kekuasaan VOC, Sultan Mataram mengutus
Penembahan Galuh (Ciamis) bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati
Panatayuda atau Adipati Kertabumi III untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah
Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura,
Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut
Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas
Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya
berawa-rawa (Sunda :"Karawaan").
Dari
masa inilah kemudian tentara mataram mulai memaksa masyarakat untuk bercocok
tanam/bertani dan upeti yang besar bagi petani yang sudah lebih dulu menanam
bahkan tak jarang perampasan hasil panen milik petani guna menyandang
logistic/pangan bagi kebutuhan perang melawan kerajaan Banten dan
menghalau tentara kompeni.
Sultan
Agung Mataram kemudian mengangkat putera Adipati Kertabumi III, yakni Adipati
Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656. Adipati
Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang
Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug.
Pada
masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putera Panembahan Singaperbangsa yang
bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679 dan 1721 ibu kota Karawang dari
Udug-udug pindah ke Karawang, dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah antara
Cihoe (Cibarusah) dan Cipunagara. Pemerintahan Kabupaten Karawang berakhir
sekitar tahun 1811-1816 sebagai akibat dari peralihan penguasaan Hindia-Belanda
dari Pemerintahan Belanda kepada Pemerintahan Inggris.
Antara
tahun 1819-1826 Pemerintahan Belanda melepaskan diri dari Pemerintahan Inggris
yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para Bupati kepada
Gubernur Jendral Van Der Capellen. Dengan demikian Kabupaten Karawang
dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah tanah yang terletak di
sebelah Timur sungai Citarum/Cibeet dan sebelah Barat sungai Cipunagara.Dalam
hal ini kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered pada waktu
itu termasuk Kabupaten Bandung. Sebagai Bupati I Kabupaten Karawang yang
dihidupkan kembali diangkat R.A.A. Surianata dari Bogor dengan gelar Dalem
Santri yang kemudian memilih ibukota kabupaten di Wanayasa.
Pada
masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada tahun 1830
ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih yang diresmikan berdasarkan
besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2.
Pembangunan
dimulai antara lain dengan pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud,
Pembuatan Gedung Karesidenan, Pendopo, Mesjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak,
termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega dan Situ Kamojing.
Pembangunan
terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya.
Kabupaten
Karawang dengan ibukota Purwakarta berjalan sampai dengan tahun 1949. Pada
tanggal 29 Januari 1949 dengan Surat Keputusan Wali Negeri Pasundan Nomor 12,
Kabupaten Karawang dipecah dua yakni Karawang Bagian Timur menjadi Kabupaten
Purwakarta dengan ibu kota di Subang dan Karawang Bagian Barat menjadi
Kabupaten Karawang. Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 1950, tentang
pembentukan daerah kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat, selanjutnya
diatur penetapan Kabupaten Purwakarta, dengan ibu kota Purwakarta, yang meliputi
Kewedanaan Subang, Sagalaherang, Pamanukan, Ciasem dan Purwakarta. (wiki pedia)
Dari
sepintas sejarah ini kita akan sedikit dapat menarik benang merahnya. Saya akan
mengurai hal-hal yang menurut saya dari sejarah tersebut goyang karawang muncul
seiring dengan kabupaten karawang yang dijadikan penyangga logistic oleh
tentara mataram. Pertanian kabupaten karawang pun boleh dikatakan berkembang
pada saat itu, sebagaimana kita ketahui bahwa seni budaya itu dilahirkan dari
rahim relasi-relasi social dan corak produksi masyarakatnya.
Sistem
produksi pertanian dan asal mula istilah goyang karawang
Tentu
saja Pertanian Karawang pada masa-masa itu masih sangat tradisional.
Tradisional di sini boleh dibilang karena dari cara dan alat-alat produksinya
yang masih sangat sederhana tanpa kehadiran mesin produksi seperti traktor dan
mesin penggilingan padi yang saat ini sudah banyak dipergunakan.
Agar
lebih mendekatkan pencarian istilah goyang karawang, terlebih dulu saya akan
paparkan proses produksi bertani pada waktu itu. Proses produksi yang dilakukan
pertama kali adalah merendam benih (varietas) pilihan yang akan ditanam (selama
kurang lebih satu minggu). Tahap kegiatan ini sejalan dengan pengolahan tanah
dan pembuatan persemaian, setelah itu melakukan penyemaian selama 21 hari, lalu
proses berikutnya adalah menanam (tandur) setelah selesai tandur baru memasuki
fase perawatan (ngoyos/ngarambet dan pemberian pupuk alami) dan setelahnya
tinggal menunggu masa panen. Saat panen, setelah padi di petik kemudian
digebot dan lalu dijemur proses selanjutnya yaitu menumbuk padi yang
sudah kering hingga menjadi beras. Pada proses akhir inilah yang menurut saya
penting untuk kembali saya urai detail.
Dalam
menumbuk padi agar sampai menjadi beras, waktu itu masyarakat menggunakan alat
alu dan lesung. Biasanya kaum perempuan yang mengerjakan proses ini secara
bersama-sama/kolektif. Dalam proses pemisahan antara beras dengan gabah setelah
ditumbuk, di sebut nginter (b.sunda). Yaitu sebuah gerakan tubuh perempuan pada
posisi berdiri sambil menggerak-gerakan nyiru (alat untuk menampi yang terbuat
dari anyaman bambu), berisi kira-kira 90% beras dan 10% gabah (pada fase ini
gabah tersebut diistilahkan khusus menjadi serah) dengan
maksud biji yang masih berbentuk gabah/serah terpusat di tengah nyiru lalu biji
gabah/serah yang sudah terpusat di tengah nyiru tersebut di (rawu/diambil
dengan kedua telapak tangan) dan dipisahkannya dari biji beras untuk kemudian
ditumbuk kembali. Nah, dalam proses nginter ini lah (terdapat gaya sentrifugal/berlawanan
arah keluar) ketika kedua tangan menggerakan nyiru berputar kearak kiri maka
secara otomatis tubuh berputar tetap ke arah kanan, dengan tubuh sedikit
condong kedepan maka tampak sekali pinggul bergoyang secara kontinyu.
Kebiasaan
lainnya pada saat perempuan-perempuan desa menyelesaikan pekerjaan penumbukan,
mereka melakukan pemukulan lesung dengan alu masing-masing secara teratur dan
berirama sehingga mengeluarkan suara yang enak di dengar sambil sebagian dari
mereka melagukan kawih-kawih sunda dan sebagian menari (mungkin ini salah satu
seni musik dan kawih/lagu yang dilahirkan oleh kegiatan produksi).
Karena
yang demikian itu merupakan pekerjaan produksi yang menjadi bagian dari proses
kehidupan manusia, maka gerakan goyang yang misterius kesejarahannya tersebut
berlangsung setiap saat dimanapun kaum perempuan tani berada.
Kegiatan
tersebut tak hanya dilakukan oleh perempuan tua, melainkan dilakukan pula oleh
gadis-gadis desa dimasa itu di Karawang (sekarang kabupaten karawang) dan dulu
karawang yang sekarang sudah menjadi kabupaten Purwakarta dan kabupaten Subang
Barulah
kemudian di era yang tengah terjajah tersebut, laki-laki biadab (tuan
tanah/hulubalang kerajaan/serdadu penjajah) meyakini atau lebih tepatnya
mengasumsikan bahwa perempuan-perempuan Karawang memiliki kelebihan tersendiri
yaitu goyangan pinggulnya, tentu saja yang mengisi kepala mereka adalah nafsu
sahwat yang tak terkendali. Dengan segenap kekuatan/kekuasaan/bahkan senjata
mereka dengan sangat mudah mengambil gadis-gadis desa tersebut sebagai
pengganti tebusan utang (rente) yang tak terbayar oleh bapak-bapak mereka, lalu
dijadikannya pelayan nafsu durjana mereka, bahkan tak jarang pemerkosaan
dilakukannya. Walalupun sebenarnya sistem matriarchal sudah berubah menjadi
patriarchal di era ini, yang menghendaki kaum laki-laki memikiki dominasi atas
kaum perempuan.
Seiring
perjalanan waktu, terdapat penyatuan dan serapan budaya seni jaipong (yang
konon berasal dari bandung) dalam kehidupan masyarakat karawang dimana
masyarakat karawang pun sudah mengenal seni tarik suara, musik dan tarian di
tengah kegiatan produksi pertanian masih menghisap penuh dengan kegetiran sertamenghambakan
banyak kaum buruh tani.
Dengan
demikian, menurut saya untuk mengetahui seluk beluk goyang karawang pada
esensinya bukan terletak pada ruang dan titimangsa, pelaku sejarah, kapan dan
dimana mulai muncul nama goyang karawang. Akan tetapi terdapatnya kandungan
pesan tentang sejarah goyang karawang ditengah kegigihan nenek kakek kita dalam
mempertahankan hidup serta merebut kembali hak-haknya yang direnggut penguasa
feudal (tuan tanah dan sebarisan pemerintahan zhalim), hingga kepedihan itu
berlanjut ke masa penjajahan berikut perlawanan rakyatnya (baca : Prasasti
Rawagede) juga kemiskinan para petani dan kaum perempuan dibawah patriarchal.
Jadi kesimpulannya adalah goyang karawang bukan seni budaya hedonis yang
mendegradasi derajat kaum perempuan, melainkan seni budaya kolektif/gotong
royong yang tumbuh pada perjuangan kemerdekaan diri.
Penyebaran
istilah Goyang Karawang
istilah
goyang karawang tersiar lebih luas jangkauannya dan lebih cepat daya rambatnya
ketika media massa elektronik berkesanggupan menjalarkannya hampir keseluruh
pelosok negeri. ini pun sangat dimungkinkan oleh peran Lilis Karlina sebagai
pedangdut yang cukup memiliki kemampuan tarik suara di jagad musik Indonesia,
dimana pada masa itu musik dangdut boleh dikatakan masih menempati ruang
terlebar di masyarakat, tanpa ada pengecualian pada kalangan/segmen anak muda
dan daerah perkotaan yang saat ini sudah menjadi pasar bagi
perusahaan-perusahaan/industri rekaman/bisnis entertain, khususnya musik
seperti pop, rock dan sebagainya.
Yang
menjadi menarik buat kita adalah tak sekedar penyiaran media tentang lagu
Goyang Karawang oleh keselarasan suara Lilis Karlina sendiri yang mendongkrak
penjualan kaset/CD. Akan tetapi ada satu hal lain tentang banyaknya kalangan
pengamat musik dangdut yang menilai dan membandingkan dengan Itje Tresnawati
dalam lagu "Duh Engkang", jauh lebih hebat dibanding Goyang Karawang
Lilis Karlina dalam kapasitas vokal dan bangunan liriknya. Kalau pun secara
pasar Lilis Karlina mampu mengungguli popularitas Itje Tresnawati, ini lebih
dikarenakan oleh nuansa sensual yang dipintonkan oleh sang penyanyi dalam keselarasan
judul lagu Goyang Karawang. Sementara dalam lagu tersebut memang tak terdapat
makna berarti bagi masyarakat. Adapun faktor pendukung penyebarannya adalah
alat-alat eloktronik untuk memutar lagu/video tersebut seperti tape recorder,
walkman, televisi, VCD player dsb, yang semua itu harus masyarakat
miliki.
Berhubungan
dengan pembuatan film arwah goyang karawang yang dibintangi oleh Julia Perez
yang banyak dinilai orang sama sekali tidak ada relevansinya dengan sejarah
goyang karawang, dan lebih cenderung “bomseks” itu bukan hal aneh lagi, karena
yang menggarap film tersebut adalah perusahaan/industri film yang berorientasi
profit (Kapitalistik) yang memiliki watak membodohi dan cabul. Sumber: disini