Laman

Kamis, 10 September 2015

Masih di Bogor, tapi geser dikit laahhh ke Kota.

Masih berasa gak nyangka, berasa mimpi. Dulu kalo mau ke Bogor itu harus siapin uang banyak dan persiapkan jadwal yang panjang. Cuma karena masih nelor aja di kampung halaman sendiri, dengan istilah Bogor yaaaa taunya cuma berbagai wisata di Puncak.

Seiring bertambahnya usia, bertambah pula juga dong uang saku? ga nyambung sebenernya hehe. Tapi ini beneran ko serius haha. Oke skip.

btw, ngomong soal usia, tahun ini saya berusia mau 21 tahun. Duduk di bangku kuliah, alhamdulillah dapat rezeki nomplok. Ga perlu mikirin biaya semester buat kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Gunadarma, Depok. Awalanya sih mikir kalo kuliah di Ilmu Komunikasi itu kerjaanya cuma ngomong ya cuma 'komunikasi', ternyata ngga juga ya. Banyak ilmu dan pengetahuan yang saya dapat selama kuliah. Ohya sekarang saya mau menginjak semseter 7 (re: belum kepikiran skripsi karena masih sibuk magang).

Video, audio, animasi, jurnalistik, PR, budaya, psikologi, dll saya pelajari. Cuma yang bikin saya terpogoh-pogoh adalah hampir semua tugas yang diberikan harus didukung dengan presentasi menggunakan video. Awal kuliah kedapetan tugas bikin video gatau harus gimana, apa judul video, konten video, audio yang mendukung video, masih banyak banget deh kebingungan saat itu. Cuma karena rasa ingin tahu yang besar, jadilah video pembelajaran itu. Cukup memuaskan dosennya beserta teman-teman sekelas. Karena waktu semester video yang dibikin gak banget deh hiks.

Sosiologi, Komunikasi dan Informasi adalah salah satu mata kuliah yang presentasinya wajib pake video pembelajaran. Bersama ketiga temen sekelompok saya (Denischa, Nungky, dan Ramadhan) langsung mengkonsep video. Mulai dari tema, materi, script, kostum, serta lokasi shooting direncanakan dengan matang. Alih-alih balas dendam semester 1 haha. Tema dan materi yang kita dapat hasil undian dosen adalah membahas tentang media cetak dan elektronik.

Alih-alih balas dendam semester 1, ceritanya waktu itu saya dan teman-teman pengen bikin video beda dari yang lain, salah satunya pemilihan lokasi shooting yang jauh dari tempat kuliah, di Depok. Oke Kebun Raya Bogor yang kami pilih. Because why? mengusung ingin dapet kesan nature. Pokonya alami banget gitu deh. Sambil jalan-jalan juga sih hehe. Sayangnya, Kebun Raya Bogor saat itu dalam kondisi yang sedikit membahayakan. Banyak pohon yang hampir tumbang, dan memang banyak pohon yang sudah tumbang. Tapi mau bagaimana pun, belum ada rasa jenuh jalan-jalan di Bogor. Ga tau kenapa rasanya ingin ke Bogor lagi, Bogor lagi dan lagi. Bogoh deh ka Bogor haha.


Proses Shooting di Kebun Raya Bogor. (Presenter: M. Ramadhan Setiawan - Kamera: saya sendiri)


Untuk menuju Kebun Raya Bogor (KRB) dari Depok, saat itu menggunakan kereta KRL Commuter Line (CL) denga biaya yang masih Rp. 9000,- cukup terbilang sangat mahal dibanding dengan harga KRL saat ini yang cuma Rp. 3000 dari Staisun Universitas Indonesia sampe Stasiun Bogor. Dari Stasiun Bogor, lanjut pake angkot warna hijau nomer 02 Bubulak - Sukasari atau 03 Bubulak - Baranangsiang dengan Rp. 3000/orang aja udah sampe depan pintu masuk KRB. Tiket masuk KRB saat itu Rp. 15.000,- tapi untuk wisatawan asing sekitar Rp. 25.000,-

ini mapping Kebun Raya Bogor, klik disini. 

dan untuk hasil videonya maaf belum bisa diupload, ada kesalahan teknisi hasil render :( padahal view di salah satu halaman Kebun Raya Bogor yang dipilih jadi lokasi shooting lumayan bagus hiks.


Menduakan Puncak, Bogor.

Pertama kali saya mendengar kata Bogor yang terpikir adalah Puncak!!!

Pepohonan, hijau, asri, dingin, sejuk, tenang, nyaman, hmmmmm yaaaa pokoknya ingin diam sejenak dari perlehatan rutinitas sehari sambil memejamkan mata, mengahadap langit, menyimpan punggung di atas bale dari bambu, serta menyimpan tangan kanan diatas tangan kiri. Saya pikir semua orang sama. Apalagi untuk orang-orang yang hampir seluruh waktunya tinggal di Jakarta dan sekitarnya.

Lupa berapa tahun silam saya pertama kali ke Bogor. Mungkin sih ketika TK. Jalan-jalan sambil pembagian rapor. Ohya baru inget! Taman Safari hihihihi. Lupa juga saat itu ngapain aja.

Lari ke beberapa tahun kemudian, tepatnya 20 April 2011. Saya dan beberapa teman SMA, pergi liburan ke Telaga Warna. Gak kesampean ke Puncak Pass, Telaga Warna pun jadi pilihan alternatif. Tidak kalah menyenangkan, Telaga Warna sangat cocok sekali untuk menghilangkan penat. Saat itu cukup bayar Rp. 2000,- sudah bisa menikmati semua panorama alam yang ada. Tentunya alam hasil karya Yang Maha Kuasa.

  
Kursi terbuat dari batang pohon langsung berhadapan dengan Telaga.
Kebun Teh berada di luar Telaga Warna
Wahhh ternyata yang mengunjungi Telaga Warna ini bukan cuma warga asli Bogor ataupun dari lokal. Turis mancanegara pun ada loohhh. Saat saya wawancarai mereka, "it's beautiful" katanya sambil mengacungkan 2 jempol (two thumbs up).
bersama turis mancanegara berasal dari Timur

selain menikmati panorama alam yang ada, saya juga mencoba flying fox loh. Ga nyangka kan? dan yang bikin jantung dag dig dug serrr adalah flying fox itu melintasi telaga disitu. Cuma bayar Rp. 10.000,- adrenalin saya dipacu. But i've enjoyed it! dan ketagihan lagi lagi lagi mau lagi haha.
Flying Fox melintasi di atas Telaga Warna

Karena hari mulai sore dan kabut mulai turun, terpaksa Saya dan teman-teman mengakhiri waktu di Telaga Warna. Tidak cukup satu hari. Telaga Warna ini juga punya ceritanya. Banyak mitos yang diceritakan warga sana. Kalo mata kalian jeli, warna dan alur air di Telaga tersebut berbeda loh. Padahal masih dalam satu danau. Untuk info lebih lanjut bisa googling atau baca buku atau langsung kunjungi kesana.