| |||||||||||||
| banjir di Bundaran HI, Jakarta, Indonesia |
Dahsyatnya Banjir Bandang Manado, 30% Kota Manado Terendam Banjir, Banjir Mulai Surut, Ini Jalan di Jakarta yang Masih Tergenang Air, 3 Wilayah Jakarta Timur dengan Sampah Banjir Terbanyak, Ahok Bantah kawasan Thamrin - Sudirman Akan banjir, Manado Dilanda Banjir 3 Meter, 5 Kecamatan Terendam., Warga Ciledug Indah: Dari Kapan Tahu Kali Angke Tak Dikeruk, Banjir Ciledug Indah Surut, Dinas PU Dikerahkan Keruk Lumpur, Sejumlah Perumahan di Tangerang Masih Banjir, Putar Balik! Jalan TB Simatupang Masih Banjir 40 Cm. (1)
Ini adalah beberapa judul berita
terpopuler di awal tahun 2014 yang sangat ramai diperbincangkan. Sepertinya “Si
Banjir” sudah tidak asing lagi di telinga siapapun. Seolah “Si Banjir” sudah
seperti sahabat bahkan mendarah daging di setiap warga Indonesia. Jakarta
adalah salah satu kota di Indonesia yang sudah sangat bersahabat dengan “Si
Banjir”. Pertanyaan mendasar perihal “Si Banjir” adalah hanya Apa Penyebab dan Bagaimana
penanggulangannya?
Penyebab banjir di Ibu Kota
Indonesia, Jakarta ini sangat bisa dibilang sepele.
Sepele disini dengan kata lain hal kecil yang menjadi kebiasaan dilakukan
terus menerus dan tak terasa. Yap! yaitu sampah. Sampah adalah benda yang pada
umumnya sudah tidak layak pakai. Namun apakah sampah tidak punya rumah? Tentu saja punya, yaitu tempat
sampah. Membuang sampah sembarangan adalah hal kecil yang secara terus menerus
dilakukan oleh manusia, yang dianggap hal wajar namun bisa berdampak besar yang
bahkan bias memangsa si pembuang sembarangan itu sendiri. Tempat sampah yang
disediakan pemerintah secara cuma-cuma seolah hanya menjadi dekorasi kota saja.
Akan tetapi apakah kita harus menyalahkan “Si Sampah”? tentu saja tidak. Manusia
lah yang harus disalahkan. Terkadang “Si Banjir” sering dikatakan sebagai
musibah. Namun apakah musibah itu dating dengan sendirinya? Tentu saja tidak. Musibah
akan hadir karena suatu sebab.
Berbagai cara penanggulangan banjir
telah ditempuh. Bertahun-tahun pemerintah mencari solusi agar “Si Banjir” tidak
dating lagi. Beribu cara pemerintah mencari ilmu ke Negara lain untuk mengusir “Si
Banjir”. Namun tak kunjung jua titik terangnya.
Ini sudah sepatutnya kita telaah
secara bersama bagaimana cara menanggulangi “Si Banjir”. Itu semua kembali
kepada individu masing-masing. Kita tidak bisa selalu harus menyalahkan
pemerintah. Kita sebagai warga Negara Indonesia sudah sepatutnya ikut andil
dalam menanggulangi hal ini. Mulailah dari hal kecil, yaitu buang sampah pada
tempatnya, mendayaguna-manfaatkan barang yang tak layak pakai menjadi layak
pakai, bahkan menjadi sumber mata pencaharian. Bukankah bila kita mendayaguna-manfaatkan
sampah juga akan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia? Bahkan “Si
Banjir” adalah bom besar bagi pertanian Indonesia.
Mari kita renungkan secara bersama-sama.
Kekeringan
dan Banjir Susul Menyusul (2)
Kekeringan
dan banjir, secara bersamaan maupun terpisah, menjadi pandangan publik yang
memilukan. Dalam beberapa dekade
terakhir ini, kekeringan berlangsung di berbagai tempat di Indonesia.
Akibatnya, jutaan hektar areal pertanian di Jawa dan luar Jawa terancam gagal
panen. Sementara masih sangat kental dalam ingatan, musim hujan selalu memaksa
orang untuk tergopoh-gopoh karena datangnya banjir yang merendam berbagai kota.
Untuk mengkaji lebih mendalam kedua kejadian itu
perlu dikemukakan faktor-faktor penyebab kekeringan dan banjir secara
menyeluruh. Berdasarkan kaidah ilmu pada hidrologi dan keseimbangan
Daerah Aliran Sungai (DAS), banjir dan kekeringan merupakan “saudara kembar”
yang pemunculannya datang susul menyusul. Faktor penyebab kekeringan sama
persis dengan faktor penyebab banjir. Keduanya berperilaku linier-dependent,
artinya semua faktor yang menyebabkan kekeringan akan bergulir mendorong
terjadinya banjir. Semakin parah kekeringan yang terjadi, maka semakin dahsyat
pula banjir yang akan menyusul, dan hal yang demikian berlaku sebaliknya.
Terdapat beberapa faktor penyebab kekeringan dan
banjir. Di antaranya adalah faktor iklim ekstrim (kemarau ekstrim dan hujan
ekstrim), faktor penurunan daya dukung DAS termasuk di dalamnya faktor pola
pembangunan sungai, faktor kesalahan perencanaan dan implementasi pengembangan
kawasan, faktor kesalahan konsep drainasi dan faktor sosio-hidraulik
(kesalahan perilaku masyarakat terhadap komponen hidrologi – hidraulik).
BANJIR SEBAGAI PROSES
PENYADARAN (3)
Kerugian banjir di Jakarta dan sekitarnya pada
bulan februari 2007 diperkirakan oleh Bappenas mencapai Rp. 8,8 triliun.
Departemen Sosial menyatakan, kerugian harta akibat banjir bandang di Situbondo
dan Bondowoso Provinsi Jawa Timur, pada februari 2008 diperkirakan mencapai
sekitar Rp. 350 miliar. Walhi memperkirakan total kerugian langsung akibat
banjir yang melanda Pulau Sumatera sejak bulan Maret hingga November 2008
mencapai Rp. 500 miliar. Berita-berita terkait banjir dan kerugiannya yang
biasanya menghiasi headline surat kabar ketika musim penghujan melanda sebagian
besar wilayah Indonesia. Kerugian akibat bencana banjir biasanya juga menyentuh
persoalan interaksi sosial, terhentinya roda perekonomian untuk sementara dan
kadang kala bisa berujung pada terenggutnya korban jiwa.
Ada tiga faktor sangat berpengaruh penyebab
banjir terjadi. Pertama kerusakan lingkungan, hal ini ditandai peningkatan suhu
rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi (pemanasan global). Para pakar dan
ilmuwan lingkungan yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC) memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan
meningkat 1,1 hingga 6,4 derajat Celcius atau setara dengan 2,0 hingga 11,5
derajat fahrenheit antara tahun 1990 dan 2100. Kondisi bumi yang memanas
menyebabkan perubahan iklim semakin tidak stabil. Dampak perubahan iklim bagi
Indonesia dapat dirasakan dengan semakin keringnya musim kemarau dan intensitas
air hujan yang semakin tinggi di musim penghujan. Naiknya permukaan air laut
disebabkan dataran es di kutub mencair serta merta membuat abrasi pantai
semakin cepat. Kedua fenomena alam tersebut membuat terbenamnya daratan yang
biasanya kering dan dapat ditinggali oleh manusia atau biasa kita kenal dengan
istilah banjir.
Faktor kedua adalah sistem pengelolaan
lingkungan. Pengelolaan lingkungan semakin berpengaruh terhadap kehadiran
bencana banjir, seiring dengan kecenderungan semakin meningkatnya wilayah
perkotaan. Pertambahan jumlah penduduk, terutama di wilayah perkotaan, berdampak
pada peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal dan daya dukung perkotaan.
Meluasnya wilayah pemukiman memiliki pengaruh langsung terhadap berkurangnya
daerah resapan air, karena hampir seluruh permukaan tanah berganti dengan aspal
atau beton. Kondisi tersebut diperparah dengan penataan bangunan dan wilayah
yang kurang memperhatikan sistem pembungan air. Kekurang ketersediaan pepohonan
yang dapat berfungsi sebagai peresapan air merupakan kombinasi yang semakin
sempurna untuk mendatangkan bencana banjir. Hampir sebagian besar kota-kota
besar di Indonesia belum memiliki sistem drainase yang terpadu.
Faktor ketiga yang lebih penting dari kedua
faktor diatas adalah perilaku manusia. Perbedaan mencolok antara desa dengan
kota selain dilihat dari tingkat kepadatannya adalah pola hidup. Orang di desa
lebih mampu bersahabat dengan alam sekitarnya sedangkan di kota seringkali
tidak menghiraukan aspek lingkungan. Buktinya adalah di kota-kota besar, gedung
bertingkat dan jalanan beton menggusur tanah- tanah resapan air, bahkan situ
atau danau ditimbun kemudian dibangun mall. Keegoisan manusia telah menyebabkan
bencana banjir selalu dekat dengan kehidupan kita.
1 komentar:
sebenernya banjir di jakarta itu bukan karena sampah doang yang jadi alasan besarnya. tapi dari struktur kota jakarta itu sendiri yang lebih rendah dari permukaan air. makanya kalo hujan gede banget pasti deh banjir. tapi ini untuk kawasan yang udah utara dan sekitarnya gitu
Posting Komentar