Laman

Rabu, 15 Januari 2014

"Si Banjir"


Ini adalah beberapa judul berita terpopuler di awal tahun 2014 yang sangat ramai diperbincangkan. Sepertinya “Si Banjir” sudah tidak asing lagi di telinga siapapun. Seolah “Si Banjir” sudah seperti sahabat bahkan mendarah daging di setiap warga Indonesia. Jakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang sudah sangat bersahabat dengan “Si Banjir”. Pertanyaan mendasar perihal “Si Banjir” adalah hanya Apa Penyebab dan Bagaimana penanggulangannya? 

Penyebab banjir di Ibu Kota Indonesia, Jakarta ini sangat bisa dibilang sepele. Sepele disini dengan kata lain hal kecil yang menjadi kebiasaan dilakukan terus menerus dan tak terasa. Yap! yaitu sampah. Sampah adalah benda yang pada umumnya sudah tidak layak pakai. Namun apakah sampah tidak punya rumah? Tentu saja punya, yaitu tempat sampah. Membuang sampah sembarangan adalah hal kecil yang secara terus menerus dilakukan oleh manusia, yang dianggap hal wajar namun bisa berdampak besar yang bahkan bias memangsa si pembuang sembarangan itu sendiri. Tempat sampah yang disediakan pemerintah secara cuma-cuma seolah hanya menjadi dekorasi kota saja. Akan tetapi apakah kita harus menyalahkan “Si Sampah”? tentu saja tidak. Manusia lah yang harus disalahkan. Terkadang “Si Banjir” sering dikatakan sebagai musibah. Namun apakah musibah itu dating dengan sendirinya? Tentu saja tidak. Musibah akan hadir karena suatu sebab.

Berbagai cara penanggulangan banjir telah ditempuh. Bertahun-tahun pemerintah mencari solusi agar “Si Banjir” tidak dating lagi. Beribu cara pemerintah mencari ilmu ke Negara lain untuk mengusir “Si Banjir”. Namun tak kunjung jua titik terangnya. 

Ini sudah sepatutnya kita telaah secara bersama bagaimana cara menanggulangi “Si Banjir”. Itu semua kembali kepada individu masing-masing. Kita tidak bisa selalu harus menyalahkan pemerintah. Kita sebagai warga Negara Indonesia sudah sepatutnya ikut andil dalam menanggulangi hal ini. Mulailah dari hal kecil, yaitu buang sampah pada tempatnya, mendayaguna-manfaatkan barang yang tak layak pakai menjadi layak pakai, bahkan menjadi sumber mata pencaharian. Bukankah bila kita mendayaguna-manfaatkan sampah juga akan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia? Bahkan “Si Banjir” adalah bom besar bagi pertanian Indonesia.
Mari kita renungkan secara bersama-sama.
Kekeringan dan Banjir Susul Menyusul (2) 
 
Kekeringan dan banjir, secara bersamaan maupun terpisah, menjadi pandangan publik yang memilukan. Dalam beberapa dekade terakhir ini, kekeringan berlangsung di berbagai tempat di Indonesia. Akibatnya, jutaan hektar areal pertanian di Jawa dan luar Jawa terancam gagal panen. Sementara masih sangat kental dalam ingatan, musim hujan selalu memaksa orang untuk tergopoh-gopoh karena datangnya banjir yang merendam berbagai kota.

Untuk mengkaji lebih mendalam kedua kejadian itu perlu dikemukakan faktor-faktor penyebab kekeringan dan banjir secara  menyeluruh. Berdasarkan kaidah ilmu pada hidrologi dan keseimbangan Daerah Aliran Sungai (DAS), banjir dan kekeringan merupakan “saudara kembar” yang pemunculannya datang susul menyusul. Faktor penyebab kekeringan sama persis dengan faktor penyebab banjir. Keduanya berperilaku linier-dependent, artinya semua faktor yang menyebabkan kekeringan akan bergulir mendorong terjadinya banjir. Semakin parah kekeringan yang terjadi, maka semakin dahsyat  pula banjir yang akan menyusul, dan hal yang demikian berlaku sebaliknya.
Terdapat beberapa faktor penyebab kekeringan dan banjir. Di antaranya adalah faktor iklim ekstrim (kemarau ekstrim dan hujan ekstrim), faktor penurunan daya dukung DAS termasuk di dalamnya faktor pola pembangunan sungai, faktor kesalahan perencanaan dan implementasi pengembangan kawasan, faktor kesalahan konsep  drainasi dan faktor sosio-hidraulik (kesalahan perilaku masyarakat terhadap komponen hidrologi – hidraulik).
BANJIR SEBAGAI PROSES PENYADARAN (3) 

Kerugian banjir di Jakarta dan sekitarnya pada bulan februari 2007 diperkirakan oleh Bappenas mencapai Rp. 8,8 triliun. Departemen Sosial menyatakan, kerugian harta akibat banjir bandang di Situbondo dan Bondowoso Provinsi Jawa Timur, pada februari 2008 diperkirakan mencapai sekitar Rp. 350 miliar. Walhi memperkirakan total kerugian langsung akibat banjir yang melanda Pulau Sumatera sejak bulan Maret hingga November 2008 mencapai Rp. 500 miliar. Berita-berita terkait banjir dan kerugiannya yang biasanya menghiasi headline surat kabar ketika musim penghujan melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Kerugian akibat bencana banjir biasanya juga menyentuh persoalan interaksi sosial, terhentinya roda perekonomian untuk sementara dan kadang kala bisa berujung pada terenggutnya korban jiwa.

Ada tiga faktor sangat berpengaruh penyebab banjir terjadi. Pertama kerusakan lingkungan, hal ini ditandai peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi (pemanasan global). Para pakar dan ilmuwan lingkungan yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1,1 hingga 6,4 derajat Celcius atau setara dengan 2,0 hingga 11,5 derajat fahrenheit antara tahun 1990 dan 2100. Kondisi bumi yang memanas menyebabkan perubahan iklim semakin tidak stabil. Dampak perubahan iklim bagi Indonesia dapat dirasakan dengan semakin keringnya musim kemarau dan intensitas air hujan yang semakin tinggi di musim penghujan. Naiknya permukaan air laut disebabkan dataran es di kutub mencair serta merta membuat abrasi pantai semakin cepat. Kedua fenomena alam tersebut membuat terbenamnya daratan yang biasanya kering dan dapat ditinggali oleh manusia atau biasa kita kenal dengan istilah banjir.

Faktor kedua adalah sistem pengelolaan lingkungan. Pengelolaan lingkungan semakin berpengaruh terhadap kehadiran bencana banjir, seiring dengan kecenderungan semakin meningkatnya wilayah perkotaan. Pertambahan jumlah penduduk, terutama di wilayah perkotaan, berdampak pada peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal dan daya dukung perkotaan. Meluasnya wilayah pemukiman memiliki pengaruh langsung terhadap berkurangnya daerah resapan air, karena hampir seluruh permukaan tanah berganti dengan aspal atau beton. Kondisi tersebut diperparah dengan penataan bangunan dan wilayah yang kurang memperhatikan sistem pembungan air. Kekurang ketersediaan pepohonan yang dapat berfungsi sebagai peresapan air merupakan kombinasi yang semakin sempurna untuk mendatangkan bencana banjir. Hampir sebagian besar kota-kota besar di Indonesia belum memiliki sistem drainase yang terpadu.

Faktor ketiga yang lebih penting dari kedua faktor diatas adalah perilaku manusia. Perbedaan mencolok antara desa dengan kota selain dilihat dari tingkat kepadatannya adalah pola hidup. Orang di desa lebih mampu bersahabat dengan alam sekitarnya sedangkan di kota seringkali tidak menghiraukan aspek lingkungan. Buktinya adalah di kota-kota besar, gedung bertingkat dan jalanan beton menggusur tanah- tanah resapan air, bahkan situ atau danau ditimbun kemudian dibangun mall. Keegoisan manusia telah menyebabkan bencana banjir selalu dekat dengan kehidupan kita.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

sebenernya banjir di jakarta itu bukan karena sampah doang yang jadi alasan besarnya. tapi dari struktur kota jakarta itu sendiri yang lebih rendah dari permukaan air. makanya kalo hujan gede banget pasti deh banjir. tapi ini untuk kawasan yang udah utara dan sekitarnya gitu

Posting Komentar